Cerita Rakyat dari Bengkulu - Ular Ndaung

Driau.com - Cerita Rakyat dari Bengkulu - Ular Ndaung

OpenClipart-Vectors

Dahulu kala di kaki sebuah gunung di daerah Bengkulu, hiduplah seorang wanita tua dengan tiga orang anak perempuannya. Mereka hidup dalam kemiskinan. Kebutuhan sehari-hari mereka dicukupi dari hasil ladangnya yang sangat sempit. Setiap hari, si Janda membanting tulang mengerjakan ladang itu dengan telaten dibantu si Bungsu. Sedangkan kedua kakak si Bungsu tingggal di rumah. keduanya sangat pemalas, tak pernah sekalipun pergi ke ladang membantu ibunya.

Suatu hari, Si Janda sakit keras, Si Bungsu segera memanggil tabib desa.
"Anak-anakku, sakit ibumu sudah sangat parah. Ia hanya sembuh bila diberi obat khusus, yaitu beberapa daun hutan yang dimasak dengan bara gaib dari pungcak gunung. Aku bisa mencarikan daun-daun itu. Namun untuk mencari bara gaib aku tak sanggup. kalianlah yang harus mencarinya" Kata sang Tabib kepada ketiga putri si Janda.

Alangkah sedihnya ketiga putri itu. mereka tahu, bara itu sangat sulit didapatkan karena bara di puncak gunung itu dijaga oleh seekor ular sakti yang disebut ular Ndaung. Konon ular tersebut akan memangsa siapa saja yang mencoba mendekati puncak gunung itu.

"Kakak, aku akan mencari bara itu. Kalau kakak tidak mau ikut, biar aku sendiri yang pergi" kata si Bungsu. Dengan perasaan takut ia mendaki gunung yang dimaksud. Sesampainya di puncak gunung, ia lihat sebuah gua besar. Konon di dalam gua itulah ular Ndaung tinggal. Di sekitar gua tampak pohon-pohon besar tinggi menjulang. Pohon itu sudah berlumut. Daun daunnya yang rimbun menghalangi sinar matahari sehingga tempat itu menjadi gelap, menambah takut si Bungsu. Dengan ragu-ragu, si Bungsu mendekati mulut gua.

Belum sampai si Bungsu masuk, tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh. Tanah tempatnya berpijak bergetar. Inilah pertanda ular Ndaung mendekati gua kediamannya. Mata ulat itu menyorot tajam, lidahnya menjulur-julur menambah seram. Si bungsu ketakutan melihatnya. Tubuhnya gemetar saat ular itu menatapnya. Namun saat teringat ibunya yang terbaring lemah, si Bungsu memberanikan diri mendekatinya.

"U.. ular.. yang keramat, berilah saya sebutir bara gaib guna memasak obat untuk ibuku yang sakit" Katanya terbata-bata.

Tanpa diduga ular itu menjawab dengan ramah "Bara itu akan kuberikan bila engkau bersedia menjadi istriku"


Si Bungsu ragu-ragu. Namun demi kesembuhan ibunya, maka ia pun menyanggupinya. Sebutir bara gaib dibawanya pulang. Setelah minum ramuan yang dimasak dengan bara gaib itu, Si Janda pun sehat kembali. 

Keesokan harinya, si Bungsu pun menepati janjinya pada ular Ndaung. Ia kembali ke gua di puncak gunung untuk diperistri si Ular. Pada malam harinya, alangkah terkejutnya si Bungsu. Ternyata ular itu berubah menjadi seorang kesatria tampan yang mengaku bernama Pangeran Abdul Rahman Alamsjah.

Namun pada pagi harinya ia akan kembali menjadi ular. Sebenarnya si Ular adalah seorang pangeran yang disihir  oleh pamannya karena sang paman menginginkan kedudukannya sebagai calon raja. Setelah kepergian si Bungsu, ibunya hidup dengan dua kakaknya. Suatu hari, mereka ingin mengetahui keadaan si Bungsu yang telah menikah dengan seekor ular.

Maka mereka pun berangkat ke puncak gunung. mereka tiba di sana pada malam hari. Alangkah kagetnya mereka ketika melihat suami si Bungsu bukanlah seekor ular, melainkan seorang lelaki tampan. Mereka juga tahu bahwa suami adiknya adalah seorang pangeran. Kala siang menjadi ular dan kala malam menjadi pemuda tampan.

Tumbuh perasaan iri di dalam hati dua kakak si Bungsu. Kemudian timbul niat jahanya. Mereka ingin memfitnah adiknya yang baik hati itu. Keduanya kemudian mengendap-endap ke dalam gua. Saat mereka menemukan kulit ular, di bakarlah kulit ular tersebut. Mereka mengira, jika sang Pangeran tahu kalau kulit ularnya telah dibakar, maka ia akan marah dan mengusir adiknya. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya. 

Dengan dibakarnya kulit ular tersebut, sang Pangeran terbebas dari sihir. Maka ketika menemukan kulit ular itu terbakar, sang Pangeran sangat gembira. Ia berlari dan memeluk si Bungsu. Diceritakannya bahwa sihir pamannya itu akan sirna kalau ada orang yang secara sukarela membakar kulit ularnya.

Kemudian si Ular Ndaung yang sudah kembali menjadi Pangeran Alamsjah memboyong si Bungsu dan ibunya ke istana. Kedua kakanya menolak ikut serta karena merasa malu dengan perbuatannya. Paman sang Pangaran yang jahat pun diusir dari istana.

Demikian Cerita Rakyat dari Bengkulu - Ular Ndaung yang mengajarkan kita tentang keikhlasan, bakti pada orang tua dan akibat dari berbuat jahat pada suadara sendiri. Semoga bermanfaat.





Sumber: 366 Cerita Rakyat Nusantara