Perjuangan Pemuda dalam Mengisi Kemerdekaan


Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus tahun 2016 ini tepat berusia 71 tahun telah berlalu. Beberapa hari lagi akan tiba Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Begitu lekat diingatan kita bagaimana video singkat Sang Proklamator Ir. Soekarno saat membacakan pidato proklamasi. Rakyat Indonesia begitu antusian bersorak sorai ketika teks yang begitu sederhana itu dibacakan.

Moment 17 Agustus 1945 tersebut memang sangat berarti bagi rakyat Indonesia. Bagaimana tidak, selama 3,5 abad Indonesia berada di bawah bayang-bayang Belanda, ditambah lagi 3,5 tahun menjadi Romusha, pada tanggal tersebut rakyat Indonesia benar-benar terbebas dari penjajahan.

Perjuangan ini tidak diraih begitu saja. Ada ribuan ayah yang terpisah dari anak dan istrinya, ada tetesan darah yang tidak bisa lagi ditampung dengan bejana, ada begitu banyak air mata dan kepedihan yang harus dialami oleh para pejuang kita.

Rasanya sangat nikmat jika saat ini kita bisa bernafas lega. Lega karena bisa menikmati pendidikan, lega karena setiap weekend bisa liburan, lega karena tidak ada lagi suara ledakan, dan lega karena tidak ada lagi tangisan karena kekejaman zaman penjajahan.

Ya, saat ini kita sudah memasuki zaman kemerdekaan. Namun benarkah perjuangan sudah berakhir? Ternyata tidak, karena faktanya mempertahankan jauh lebih sulit dibandingkan saat meraih. Dalam konteks ini, mempertahankan kemerdekaan ternyata jauh lebih sulit dibanding ketika berjuang meraihnya.

Lantas, perjuangan era kini menjadi tanggung jawab siapa? Jawabnya tentu bukan mereka para pahlawan yang sebagian hingga kini masih hidup. Bukan juga orang tua yang lebih berumur dibanding kita. Namun perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan adalah tanggung jawab pemuda penerus bangsa.

Tidak mudah...tentu saja. Jika pemuda zaman dahulu dihadapkan dengan senjata dan tank-tank raksasa, maka pemuda zaman kini harus berjuang menerjang arus globalisasi yang begitu membuat terlena.

Jika kita bandingkan pemuda zaman dahulu dan sekarang, tentu begitu besar perbedaannya. Lihatlah bagaimana dahulu pemuda membuat gerakan-gerakan yang begitu menyulut patriotisme. Catatan sejarah bangsa ini menempatkan pemuda sebagai pilar dan motor untuk mencapai kemerdekaan.

Sebut saja Budi Utomo, Sumpah Pemuda, dan Rengasdengklok yang menjadi peristiwa besar dalam sejarah Indonesia dan menempatkan pemuda di barisan utama. Tanpa para pemuda, entah apa jadinya Indonesia.

Namun, beda zaman, beda pula perjuangannya. Jika saja pemuda masa kini dihadapkan dengan kondisi seperti era perjuangan merebut kemerdekaan, tentu semangat patriotisme semakin besar. Namun, pemuda kini dihadapkan dengan kondisi yang berbeda, sehingga perjuangannya pun tidak lagi sama.

Zaman kini tugas para pemuda bukanlah lagi berperang atau hal semacamnya. Mereka dihadapkan pada penjajah yang berbeda. Ada narkoba yang tersebar di mana-mana, tayangan tidak pantas yang merajarela, hingga perilaku bebas yang tidak lagi membatasi pria dan wanita. Entah Siapa penjajah sebenarnya dibalik ini semua.

Pastinya, sang musuh menginginkan hilangnya kemuliaan pada generasi muda, menjauhkan diri dari kata patriotisme, sehingga pada akhirnya akan sangat mudah untuk menjadikan negeri ini dijajah kembali.

Akan tetapi, selalu ada cara menjadi pemuda era kini dengan semangat patriotisme layaknya pemuda masa lalu. Mereka bisa melakukan tindakan-tindakan tanpa harus membawa senjata atau perlawanan bergerilya. Selalu ada cara agar bangsa ini terlihat kuat. Lantas bagaimana bentuk Perjuangan Pemuda untuk Mengisi Kemerdekaan
  1. Menumbuhkan Sikap Cinta Tanah Air.
    Cinta tanah air seharusnya menjadi karakter bangsa. Tidak sedikit dari kita yang mengaku mencintai Indonesia, namun lebih memilih produk luar negeri, tergila-gila pada kebudayaan negara lain, bahkan menghina bangsa negerinya sendiri.

    Itulah mengapa mencintai tidak cukup hanya dimulut saja, namun juga butuh realisasi dan tindakan. Demikian juga ketika mencintai tanah air ini. Sikap cinta kepada tanah air ini bisa diwujudkan dengan perasaan bangga menjadi bangsa Indonesia dengan segala keunikan dan keberagamannyan. Kita juga dituntut untuk patuh terhadap aturan dan norma yang mengatur negeri ini.

    Sikap cinta tanah air menjadi pandangan kebangsaan yang kemudian akan menimbulkan sikap yang biasa disebut patriotisme dan nasionalisme, yaitu sikap sikap yang ada dalam diri pejuang yang karena memiliki rasa cinta tanah air yang sangat besar, sehingga mereka rela berkorban dan sebagainya demi negara ini.

  2. Meraih Pendidikan Sebaik Mungkin.
    Pendidikan menjadi modal penting bangsa dalam membangun sebuah negara. Sebagai seorang pemuda, sudah selayaknya kita membekali diri dengan ilmu. Karena tanpa ilmu, negara lain bisa saja menganggap Indonesia bangsa yang lemah, sehingga mudah untuk dijajah.

    Seperti ketika Belanda dan Jepang datang ke negeri ini. Mereka dapat mengetahui bahwa rakyat Indonesia minim ilmu sehingga mudah dibodohi. Lantas lihatlah bagaimana pemuda saat itu sekolah tinggi-tinggi, merekalah yang benar-benar mampu membebaskan negeri ini dari penjajahan.

    Jika tidak ingin dijajah lagi, mari rapatkan barisan untuk menempuh pendidikan sebaik mungkin. Bukan sekedar mengisi waktu luang dan melepaskan tanggungjawab orang tua bertanggung jawab terhadap pendidikan sang anak, namun lakukan belajar layaknya ibadah kepada Tuhan.

  3. Menumbuhkan toleransi, sikap persatuan dan kesatua.
    Pada dasarnya Indonesia terdiri dari beragam agama, suku, adat istiadat dan budaya. Sehingga begitu penting untuk menghormati keberagaman tersebut. Hal inilah yang kini mulai memudar. Bangsa seolah lupa bahwa ada begitu banyak keberagaman di negara kita. Sehingga banyak sekali tindakan intoleran yang menyakiti satu sama lain.

    Perlu dipahami bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya diraih oleh satu suku atau satu agama saja. Namun karena bersatunya seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke dengan keberagaman tersebut. Lihatlah ketika Sumpah Pemuda di ikrarkan, bagaimana perbedaan itu dipersatukan sehingga menimbulkan gerakan yang begitu berpengaruh terhadap bangsa ini.

    Pemuda, sudahlah hentikan perbuatan saling menghina. Media sosialmu akan lebih berguna jika tidak membahas persoalan SARA. Toleransi menjadi harga mati jika ingin hidup di negeri pertiwi ini. Jangan mudah terhasut pihak-pihak yang menginginkan perpecahan. Karena ketika kita tak lagi bersatu, bangsa lain akan dengan mudah memporak-porandakan Indonesia.

    Generasi penerus bangsa untuk secara bahu-membahu membangun bangsa dalam kerangka persatuan. Melalui persatuan dan itikad bulat segenap komponen bangsa akan menjadikan bangsa ini yang kokoh dan kuat sehingga tujuan pencapaian negara sejahtera sebagaimana tertulis dalam Pembukaan UUD 1945 akan dengan mudah tercapai.

  4. Mengenalkan Budaya Indonesia kepada Dunia.
    Pemuda saat mudah histeris saat melihat bagaimana meriahnya kebudayaan korea. Atau ikut menari India bahkan bisa hapal lagunya. Namun, tidak sedikit yang bingung dan lupa ketika harus menyanyikan lagu Indonesia Raya.

    Inilah yang terjadi pada pemuda. Bisa dilihat yang suka bermain kesenian tradisional adalah mereka yang sudah tua. Sementara yang muda, lebih sibuk dengan gadgetnya. Budaya menjadi salah satu bentuk karakter bangsa, sehingga sudah sepatutnya kita mengenalkan budaya Indonesia kepada dunia. Kaum pemuda hendaknya memegang erat budaya bangsa serta mengembangkannya secara terus menerus agar sesuai dengan perkembangan zaman selama tidak menjadi kehilangan ciri khas dan substansi asalnya.

  5. Mencintai Sejarah Indonesi.
    Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Dengan mencintai sejarah perlahan akan menumbuhkan nasionalisme dan patriotisme dalam diri. Terkait dengan hal ini, kaum pemuda hendaknya memiliki penghargaan yang tinggi kepada para pahlawan, pejuang, dan tokoh pada masa lalu yang telah mengukir dan membuat sejarah.

Mereka telah memberikan pengabdian jauh di atas standar kewajaran, bahkan mengorbankan jiwa dan raganya untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Adalah sangat penting kaum muda menempatkan mereka pada tempat terhormat dengan tetap menyadari bahwa mereka juga tetap manusia yang tidak luput dari salah dan kekurangan. Prinsip kaum pemuda dalam hal ini adalah apa-apa yang baik dari mereka hendaknya diteruskan, dan apa yang tidak baik, hendaknya ditinggalkan.

Tantangan kaum muda kini sudah berubah. Bukan lagi medan perjuangan dalam perang, namun pemuda harus menyadari bahwa penjajah kini datang dengan gaya baru yang tidak kalah merusaknya dibanding penjajahan bersenjata pada zaman dahulu.

Pada moment kemerdekaan ini, sudah saatnya kehidupan bangsa dengan mengacu kepada nilai-nilai luhur bangsa yang berlandaskan ajaran agama, moral, dan etika. Kaum muda bisa membentuk budaya sendiri namun dengan kepribadian religius, persaudaraan, persahabatan, dan harmoni dengan alam dan masyarakat.